November 6, 2026

Teleskop NASA Seberat 1,4 Ton Hancur di Langit Sumatra Utara Setelah 22 Tahun Mengorbit

0
Screenshot

Screenshot

JAKARTA — Misi legendaris milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Neil Gehrels Swift Observatory, resmi berakhir secara dramatis. Satelit teleskop pemburu ledakan kosmis tersebut dilaporkan jatuh dan terbakar saat memasuki kembali atmosfer Bumi di atas wilayah Sumatra Utara, Indonesia.

Berdasarkan konfirmasi resmi dari Angkatan Antariksa Amerika Serikat (U.S. Space Force), peristiwa masuknya kembali (re-entry) wahana antariksa ini terjadi pada Rabu, 4 November 2026, pukul 07.39 EST atau pukul 19.39 WIB.

Berikut adalah poin-poin utama terkait jatuhnya teleskop Swift milik NASA:

  • Lokasi Koordinat: Satelit memasuki atmosfer di atas Sumatra Utara, tepatnya pada titik koordinat 3,4 derajat Lintang Utara (LU) dan 98,6 derajat Bujur Timur (BT), atau sekitar 322 kilometer di utara garis khatulistiwa.
  • Kecepatan Ekstrem: Saat menembus lapisan atmosfer Bumi, wahana antariksa berbobot 1.450 kilogram ini melaju kencang hingga mencapai 22 kali kecepatan suara.
  • Kondisi Akhir Objek: NASA memastikan sebagian besar struktur utama teleskop habis terbakar akibat gesekan atmosfer yang sangat panas. Kendati demikian, beberapa komponen padat seperti roda reaksi (flywheel) berbahan berat, lensa, serta cermin teleskop diprediksi sempat bertahan dan serpihannya diperkirakan jatuh menyebar hingga area Selat Karimata.
  • Dampak Keamanan: Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai kerusakan properti maupun korban cedera. NASA sejak awal menyatakan bahwa risiko puing mengenai pemukiman warga sangatlah rendah, yakni hanya sekitar 1 banding 2.100.

Penyebab Jatuhnya Satelit

Satelit yang diluncurkan pada November 2004 ini sebenarnya hanya ditargetkan untuk menjalani misi utama selama 2 tahun. Namun, performanya yang luar biasa membuat Swift mampu beroperasi hingga hampir 22 tahun.

Kejatuhan Swift dipicu oleh lonjakan badai matahari (solar maximum) belakangan ini yang memanaskan serta memperluas lapisan atas atmosfer Bumi. Hambatan udara (drag) yang meningkat drastis membuat satelit terus kehilangan ketinggian hingga di bawah 275 kilometer. Upaya penyelamatan darurat untuk mendorong orbit satelit menggunakan wahana robotik komersial milik Katalyst Space Technologies pada Agustus lalu juga dilaporkan mengalami kegagalan teknis, hingga akhirnya NASA resmi mematikan operasional sains Swift pada 20 Oktober 2026 sebelum jatuh total minggu ini. l

Sepanjang kiprahnya, observatorium multiwavelength ini menjadi pahlawan astronomi modern dengan mendeteksi lebih dari 2.000 semburan sinar gamma (Gamma-Ray Bursts), 1.400 supernova, serta berkontribusi dalam lebih dari 7.000 makalah penelitian ilmiah dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *