Jelang Suksesi Rektor UINSU, Alfikri Soroti Kinerja Prof. Nurhayati
MEDAN — Menjelang suksesi kepemimpinan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), kritik terhadap kinerja Rektor Prof. Dr. Nurhayati semakin mencuat. Dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumut, Dr. Muhammad Alfikri, M.Si, menilai kinerja Prof. Nurhayati hingga mendekati akhir masa jabatannya masih jauh dari harapan.
Menurut Alfikri, capaian akreditasi unggul yang berhasil diraih UINSU merupakan prestasi penting. Namun, ia menilai capaian tersebut tidak sepenuhnya dapat dilekatkan kepada kepemimpinan saat ini karena proses dan persiapannya telah dirintis oleh pimpinan universitas sebelumnya.
“Akreditasi unggul tentu harus kita apresiasi. Tetapi jangan sampai capaian itu hanya dilihat sebagai hasil dari kepemimpinan sekarang. Ada proses panjang dan persiapan yang telah dilakukan pimpinan-pimpinan sebelumnya,” ujar Alfikri kepada media, Sabtu (3/9/2026) di Medan.
Ia mengatakan, ukuran keberhasilan seorang rektor tidak semata-mata dilihat dari capaian administratif atau akreditasi, tetapi juga dari kemampuan membangun institusi secara berkelanjutan, terutama dalam pengembangan sarana dan prasarana, tata kelola, serta penempatan sumber daya manusia sesuai kompetensi.
Alfikri secara khusus menyoroti kondisi sejumlah aset dan pembangunan fisik UINSU yang menurutnya belum menunjukkan perkembangan signifikan selama kepemimpinan Prof. Nurhayati.
Ia mencontohkan pembangunan gedung di kampus UINSU Jalan Pancing yang hingga kini, menurut dia, belum juga dituntaskan. Kondisi serupa, katanya, terlihat di kawasan UINSU Jalan Sena yang dinilai belum mengalami pembangunan sebagaimana diharapkan.
“Yang sangat kita sesalkan adalah masih adanya gedung yang mangkrak di Jalan Pancing. Begitu juga aset UIN Sumut di Jalan Sena yang sampai sekarang belum menunjukkan pembangunan yang berarti,” katanya.
Menurut Alfikri, pembangunan infrastruktur perguruan tinggi bukan sekadar persoalan fisik. Keberadaan gedung, fasilitas akademik dan sarana pendukung lainnya merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan, menciptakan lingkungan akademik yang representatif serta memperkuat daya saing perguruan tinggi.
Ia juga menyinggung pengelolaan gedung UINSU di Tebingtinggi yang sebelumnya dihibahkan Pemerintah Kota Tebingtinggi kepada UINSU. Alfikri menyayangkan aset tersebut pada akhirnya dikembalikan kepada Pemko Tebingtinggi karena, menurut dia, tidak dapat dikelola dan dimanfaatkan secara optimal.
“Bahkan yang kita sesalkan, gedung UIN SU di Tebingtinggi yang dihibahkan Pemko tidak bisa dikelola dengan baik hingga akhirnya diserahkan kembali kepada Pemko Tebingtinggi,” ujarnya.
Selain persoalan pembangunan dan pengelolaan aset, Alfikri juga mengkritisi aspek tata kelola sumber daya manusia di lingkungan UINSU. Ia menilai pimpinan universitas harus lebih cermat dan profesional dalam menentukan pejabat struktural, termasuk kepala program studi atau ketua jurusan.
Menurutnya, penempatan pejabat akademik seharusnya mempertimbangkan latar belakang keilmuan, kompetensi, rekam jejak akademik, serta kemampuan manajerial. Ia mengklaim masih menemukan adanya pejabat pada tingkat jurusan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan bidang keahliannya.
“Seorang pejabat akademik harus ditempatkan berdasarkan kompetensi dan keahliannya. Jangan sampai ada ketidaksesuaian antara bidang keilmuan dengan jabatan yang diemban,” tegasnya.
Alfikri berharap momentum suksesi Rektor UINSU tidak sekadar menjadi pergantian figur, tetapi menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola universitas.
Ia menilai rektor berikutnya menghadapi pekerjaan besar, mulai dari penyelesaian pembangunan fisik, optimalisasi aset, peningkatan kualitas akademik, penguatan tata kelola, hingga penempatan pejabat berdasarkan kompetensi.
“UINSU membutuhkan pemimpin yang mampu melihat persoalan secara menyeluruh dan berani melakukan pembenahan. Suksesi harus menjadi momentum untuk memperkuat universitas, bukan sekadar pergantian orang,” katanya.
Alfikri yang merupakan putra mantan Rektor UINSU, Prof. Dr. A. Ya’kub Matondang, MA, menegaskan kritik yang disampaikannya merupakan bagian dari perhatian terhadap masa depan UINSU. Ia berharap proses pemilihan rektor nantinya menghasilkan pemimpin yang memiliki visi kuat, integritas, kemampuan manajerial, serta komitmen membangun UINSU secara berkelanjutan.
Menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Prof. Nurhayati, berbagai catatan tersebut, menurut Alfikri, penting menjadi bahan evaluasi bersama. Baginya, keberhasilan universitas tidak cukup diukur dari satu indikator, tetapi harus terlihat dari kemajuan akademik, pembangunan fisik, kualitas tata kelola, profesionalisme birokrasi dan manfaat nyata yang dirasakan sivitas akademika.
