Kota Medan Pawai Obor Sambut Ramadhan 1447H, Lestarikan Budaya Leluhur
Medan, SUMATERA UTARA – Ribuan umat Muslim di Kota Medan kembali menghidupkan tradisi leluhur dengan menggelar aksi pawai obor raksasa dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah pada Sabtu (14/02/2026) malam. Kegiatan yang berpusat di halaman Masjid Raya Al-Mashun ini menjadi simbol syiar Islam sekaligus upaya menjaga warisan budaya di tengah modernitas zaman.
Koordinator Pawai Obor, Taufik Ismail, menyatakan bahwa antusiasme masyarakat pada tahun ini mengalami lonjakan drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data panitia, jumlah peserta yang memadati titik kumpul diprediksi menembus angka 10.000 orang, meningkat signifikan dari pelaksanaan tahun 2025 yang dihadiri sekitar 7.000 peserta.
“Malam ini kita dari umat Islam Sumatera Utara akan melaksanakan agenda tahunan yakni pawai obor. Kali ini pawai obor 1447 Hijriah diprediksi akan diikuti oleh 10.000 peserta,” ujar Taufik Ismail saat memberikan keterangan pers di pelataran Masjid Raya Medan.
Taufik menegaskan bahwa esensi dari kegiatan ini jauh melampaui sekadar perayaan visual. Menurutnya, pawai obor merupakan jembatan sejarah untuk mengoneksikan generasi muda dengan tradisi para orang tua terdahulu saat menyambut bulan puasa. Penggunaan obor bambu tradisional menjadi simbol cahaya yang membimbing umat menuju kesucian lahir dan batin.
“Makna yang ingin kita sampaikan dari pawai obor ini adalah menjaga tradisi orang tua kita pada zaman dulu disaat menyambut bulan suci Ramadan. Motif dari kegiatan ini merupakan salah satu upaya yang terus dilakukan agar tradisi para leluhur tetap bertahan dan terus hidup di tengah masyarakat,” tambahnya dengan penuh penekanan.
Terkait teknis pelaksanaan, panitia telah menetapkan rute long march yang melintasi sejumlah protokol utama di jantung Kota Medan. Peserta bergerak mulai dari Jalan Brigjen Katamso, menuju Jalan Pemuda, menyusuri Jalan Palang Merah, kemudian melintasi Jalan MT Haryono, Jalan Cirebon, hingga Jalan SM Raja sebelum akhirnya kembali ke titik kumpul awal di Masjid Raya.
Demi menjaga kekhidmatan acara, Taufik Ismail juga mengimbau keras kepada seluruh partisipan untuk mengedepankan aspek ketertiban dan keamanan. Panitia telah berkoordinasi dengan pihak keamanan guna memastikan pergerakan massa tidak mengganggu fasilitas umum secara berlebihan.
“Kita tidak menginginkan ada hal-hal yang sama-sama tidak kita inginkan terjadi pada pawai obor kali ini. Kita bergerak sebelum jam 9 malam, tepatnya setelah salat Isya kita mulai rapatkan barisan. Kami menghimbau bagi peserta yang ingin membawa obor mandiri dipersilakan, namun bagi yang belum memiliki, panitia juga menyediakan unit obor untuk dibeli di lokasi,” jelasnya.
Melalui aksi ini, diharapkan semangat Ramadan 1447 H dapat dirasakan oleh seluruh warga Sumatera Utara, sekaligus memperkuat jati diri umat Muslim dalam merawat tradisi lokal yang bernilai religius. Acara ini ditutup dengan doa bersama sebelum peserta memulai langkah kaki pertama mereka membelah malam Kota Medan dengan pendaran api obor.
