2

Modus Foto-foto Emas, Pria Bermasker Sukses Gondol Perhiasan Rp100 Juta dari Pasar Horas Siantar


PEMATANGSIANTAR – Aksi pencurian dengan modus berpura-pura menjadi pembeli kembali terjadi. Kali ini, seorang pria bermasker nekat membawa kabur perhiasan emas senilai sekitar Rp100 juta dari sebuah toko emas di Gedung II Pasar Horas, Kota Pematangsiantar, Rabu (3/6/2026).

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 12.39 WIB itu mengundang perhatian para pedagang dan pengunjung pasar. Aksi pelaku terekam jelas kamera pengawas (CCTV) dan videonya kini beredar luas di media sosial.

Dari rekaman yang beredar, pelaku terlihat datang seorang diri dengan mengenakan masker hitam, kemeja kotak-kotak gelap, serta kaus biru. Dengan penampilan layaknya pembeli biasa, ia mendatangi Toko Emas MH Siregar yang berada di lantai dua Gedung II Pasar Horas.

Pelaku kemudian memulai aksinya dengan menanyakan harga sejumlah perhiasan emas yang dipajang di etalase. Ia tampak santai berbincang dengan pegawai toko dan menunjukkan ketertarikan terhadap beberapa koleksi emas yang diperlihatkan kepadanya.

Untuk menghilangkan kecurigaan, pria tersebut bahkan sempat meminta izin melihat perhiasan dari jarak dekat. Tak berhenti di situ, ia juga terlihat mengambil foto beberapa perhiasan yang diklaim akan dibelinya.

Namun, di balik sikap tenangnya, pelaku diduga telah menyiapkan rencana pencurian. Saat pegawai toko lengah, ia langsung membawa kabur perhiasan emas yang sedang diperlihatkan.

Aksi itu baru disadari beberapa detik kemudian. Pegawai toko spontan berteriak “maling” sambil berusaha mengejar pelaku yang berlari meninggalkan lokasi.

Teriakan tersebut membuat suasana pasar mendadak heboh. Sejumlah pedagang dan pengunjung sempat mencoba melakukan pengejaran, namun pelaku berhasil meloloskan diri dari keramaian pasar.

Nilai kerugian akibat kejadian itu diperkirakan mencapai Rp100 juta. Hingga kini identitas pelaku masih belum diketahui.
Rekaman CCTV yang memperlihatkan detik-detik pencurian menjadi petunjuk penting untuk mengungkap kasus tersebut.

Masyarakat berharap aparat kepolisian segera menangkap pelaku yang dinilai sangat berani karena menjalankan aksinya di tengah aktivitas pasar yang sedang ramai pada siang hari.

Kasus ini menjadi pengingat bagi para pelaku usaha perhiasan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan yang mengincar barang-barang bernilai tinggi.

Ratusan Massa DPN dan Mahasiswa Kepung PLN UID Sumut, Tuntut Ganti Rugi Elektronik Hingga Jebol Pagar Kantor

MEDAN — Eskalasi kemarahan publik terhadap kinerja pelayanan PT PLN (Persero) kembali meledak di Kota Medan. Ratusan massa yang tergabung dalam Dewan Peduli Negeri (DPN) bersama elemen mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran dengan mengepung Kantor PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara di Jalan K.L. Yos Sudarso, Medan, Selasa (02/06/2026). Aksi konfrontatif ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan pelanggan yang menuntut akuntabilitas serta realisasi kompensasi nyata atas kerusakan massal peralatan elektronik warga, yang diduga kuat akibat fenomena biarpet atau pemadaman listrik secara sepihak dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, gelombang massa dari berbagai wilayah mulai memadati dan memblokade area depan gerbang kantor sejak pagi hari. Uniknya, sebagai bentuk teatrikal protes sekaligus bukti riil kerugian materiil, para demonstran turut membawa berbagai perlengkapan elektronik rumah tangga mereka yang telah rusak, mulai dari televisi, mesin cuci, hingga tumpukan bola lampu, kemudian memajangnya di depan Gedung PLN UID Sumut.

Suasana di area unjuk rasa seketika berubah menjadi sangat mencekam dan diwarnai ketegangan tinggi. Massa yang emosional terus merangsek maju dan melakukan tekanan massa agar diizinkan masuk guna mengonfrontasi langsung Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) PLN UID Sumut. Akibat kalah jumlah dan sengitnya aksi saling dorong antara demonstran dengan petugas keamanan, pintu pagar besi Kantor PLN UID Sumut akhirnya dilaporkan jebol dihantam luapan kemarahan massa.

Ketegangan verbal maupun fisik ini kian diperparah oleh sikap manajemen PLN yang dinilai tidak akomodatif dan terkesan menyepelekan aspirasi publik. Kekecewaan para pengunjuk rasa mencapai puncaknya ketika mereka mengetahui bahwa tidak ada satu pun pimpinan wilayah atau pengambil kebijakan tertinggi PLN yang bersedia keluar. Massa hanya dihadapkan dengan perwakilan dari divisi manajemen komunikasi yang dianggap tidak memiliki kewenangan eksekutif untuk mengabulkan tuntutan ganti rugi tersebut.

Bagi gerbong demonstran, pertemuan ini bukan lagi ruang diplomasi untuk mendengarkan dalih teknis atau alasan operasional dari pihak PLN, melainkan sebuah forum eksekusi tuntutan ganti rugi atas beban finansial yang harus ditanggung masyarakat kecil akibat ketidakstabilan pasokan listrik.

“Kami tidak butuh permintaan maaf! Kami butuh bukti nyata terkait kompensasi. Jangan terlalu lama masyarakat menunggu!” teriak koordinator aksi, Acil Tattoo, dengan nada lantang saat berorasi di atas mobil komando di hadapan ratusan demonstran, Selasa (02/06/2026).

Acil Tattoo menegaskan bahwa batas kesabaran masyarakat telah habis menghadapi janji-janji manis korporasi pelat merah tersebut. Absennya Kakanwil PLN dalam merespons langsung kehadiran rakyat dinilai sebagai potret nyata buruknya manajemen krisis PLN, sekaligus memperlebar ketidakpercayaan publik terhadap komitmen BUMN tersebut dalam melayani masyarakat.

“Ratusan orang datang membawa keresahan, tetapi yang ditemui hanya perwakilan. Ada apa dengan PLN? Kenapa pimpinan wilayah tidak berani memimpin dan menemui rakyat?” pungkas Acil di akhir orasinya. Massa mengancam akan mengerahkan gelombang aksi yang lebih besar jika PLN tidak segera mengeluarkan surat keputusan resmi terkait mekanisme ganti rugi dalam waktu dekat.

Pangdam I/BB Pimpin Sertijab Danyonif 100/Prajurit Setia, Tegaskan Regenerasi untuk Jaga Profesionalisme Satuan

Medan, SUMATERA UTARA — Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Hendy Antariksa, memimpin langsung jalannya Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 100/Prajurit Setia. Kegiatan penyegaran struktur kepemimpinan militer ini berlangsung secara khidmat di Gedung AH Nasution Lantai II Makodam I/Bukit Barisan, Jalan Gatot Subroto KM 7,5 Medan, Selasa (02/06/2026).

Jalannya upacara sertijab ini menandai peralihan tongkat komando satuan elit Infanteri jajaran Kodam I/BB dari pejabat lama, Letkol Inf Agus Muchtadi, S.E., M.I.P., kepada pejabat baru, Letkol Inf Amirul Husin, S.E., M.I.P. Momentum pergantian pimpinan ini berjalan dengan penuh tertib, dihadiri oleh sejumlah pejabat utama (PJU) Kodam I/Bukit Barisan, para Komandan Satuan (Dansat) jajaran, serta perwakilan prajurit dan pengurus Persit Kartika Chandra Kirana PD I/Bukit Barisan.

Dalam amanat resminya, Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa menegaskan bahwa serah terima jabatan di lingkungan TNI Angkatan Darat bukan sekadar momentum seremonial keprotokoleran semata untuk mengganti wajah komandan di lapangan. Lebih dari itu, agenda strategis ini merupakan bagian integral dari dinamika pembinaan organisasi yang dilaksanakan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Langkah ini krusial dilakukan sebagai bentuk regenerasi kepemimpinan militer guna memelihara ritme kinerja, menjaga kesinambungan roda organisasi, serta memelihara semangat profesionalisme prajurit.

Pembinaan karir dan organisasi ini juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan para perwira, agar satuan yang dipimpin dapat terus berkembang secara dinamis. Pihak Kodam I/BB memandang tantangan tugas ke depan tidak semakin ringan, melainkan terus bermutasi menjadi lebih kompleks dan multi-dimensi. Oleh karena itu, Yonif 100/PS sebagai salah satu satuan pemukul andalan di wilayah jajaran Sumatera Utara dituntut untuk selalu berada pada tingkat kesiapsiagaan operasional yang tinggi dan memiliki fleksibilitas taktis yang matang.

Pada kesempatan yang sama, Mayjen TNI Hendy Antariksa secara khusus menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya serta penghargaan yang tulus kepada Letkol Inf Agus Muchtadi, S.E., M.I.P., atas segala dedikasi, loyalitas, kerja keras, dan pengorbanan yang telah diberikan selama memangku jabatan sebagai Danyonif 100/PS. Di bawah kepemimpinan Letkol Inf Agus Muchtadi, Batalyon Infanteri 100/Prajurit Setia dinilai berhasil menorehkan berbagai capaian positif dan prestasi yang membanggakan. Keberhasilan tersebut terlihat nyata dalam bidang peningkatan intensitas latihan, pembinaan personel, hingga pemeliharaan material satuan, sehingga Yonif 100/PS tetap solid, berdisiplin tinggi, disegani, dan berprestasi.

Pangdam I/BB berharap agar seluruh pengalaman berharga, kematangan kepemimpinan, dan kesuksesan tugas yang diperoleh selama memimpin batalyon pemukul tersebut dapat dijadikan sebagai bekal yang sangat berharga sekaligus modal dasar dalam mengemban amanah tugas baru yang tidak kalah pentingnya, yakni sebagai Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0207/Simalungun.

Sementara itu, beralih kepada pejabat baru, Letkol Inf Amirul Husin, S.E., M.I.P., yang kini resmi menyandang amanah sebagai Danyonif 100/PS, Pangdam I/BB mengucapkan selamat atas kepercayaan strategis yang telah diberikan oleh pimpinan TNI Angkatan Darat. Mayjen TNI Hendy Antariksa memberikan penekanan khusus bahwa jabatan komandan batalyon bukan sekadar sebuah kehormatan, kebanggaan, atau fasilitas protokoler semata. Jabatan tersebut merupakan sebuah tanggung jawab besar di hadapan hukum, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa, yang menuntut adanya keteladanan sikap, ketajaman kepekaan terhadap situasi anggota, serta kemampuan manajerial yang matang dari seorang perwira menengah.

Menutup amanat resminya, pimpinan tertinggi Kodam I/Bukit Barisan tersebut menaruh harapan besar kepada Letkol Inf Amirul Husin agar mampu mempertahankan sekaligus melanjutkan berbagai capaian positif yang telah dirintis oleh komandan sebelumnya. Danyonif yang baru juga diinstruksikan untuk terus melakukan inovasi taktis dan meningkatkan kualitas pembinaan satuan di pangkalan. Langkah ini penting agar Yonif 100/Prajurit Setia tetap eksis menjadi satuan yang berprestasi, profesional, dicintai rakyat, serta selalu berada dalam kondisi siap digerakkan kapan pun negara mempercayakan tugas suci untuk mengawal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

PSSI Sumut Ambil Alih Akomodasi Peserta AFF U-19 2026

MEDAN — Kisruh akomodasi peserta ajang ASEAN Boys Championship U-19 atau Piala AFF U-19 2026 di Kota Medan akhirnya mendapat respons resmi dari PSSI Sumatera Utara. Polemik yang sempat mencuat terkait pembiayaan hotel peserta turnamen internasional tersebut kini disebut telah diambil alih oleh PSSI bersama panitia lokal demi memastikan penyelenggaraan tetap berjalan lancar dan tidak mencoreng nama Indonesia di mata internasional.

Pernyataan itu disampaikan Sekretaris PSSI Sumut, Yosephine Sembiring, melalui keterangan tertulis di Medan, Selasa (2/6/2026), menyusul berkembangnya informasi di media mengenai bantahan Pemerintah Kota Medan terkait tudingan tidak memenuhi komitmen pembiayaan hotel dan penginapan peserta AFF U-19 2026.

Menurut Yosephine, berdasarkan pemahaman pihaknya, komitmen pembiayaan akomodasi peserta sebelumnya merupakan kesepakatan yang terjalin antara panitia lokal dengan Wali Kota Medan. Namun apabila komitmen tersebut tidak dapat direalisasikan oleh pemerintah daerah, maka PSSI bersama panitia lokal memutuskan mengambil alih seluruh tanggung jawab tersebut agar turnamen tetap berjalan tanpa hambatan.

“Setahu kami, komitmen tersebut adalah antara Panitia Lokal dan Wali Kota Medan. Jika komitmen tersebut tidak bisa ditanggungjawabi oleh Wali Kota Medan, maka kami bersama Panitia Lokal sudah mengambil alih tanggung jawab tersebut,” ujar Yosephine.

Ia menegaskan, bagi PSSI dan panitia pelaksana, kelancaran penyelenggaraan turnamen internasional menjadi prioritas utama karena menyangkut nama baik Indonesia sebagai tuan rumah di level ASEAN. Menurutnya, persoalan akomodasi yang mencuat di tengah berlangsungnya event olahraga internasional sangat disayangkan dan diharapkan tidak mengganggu fokus penyelenggaraan pertandingan.

Yosephine juga mengingatkan bahwa Sumatera Utara ke depan diproyeksikan menjadi salah satu daerah penyelenggara berbagai event sepak bola internasional lainnya. Karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat kembali berkonsentrasi mendukung suksesnya turnamen demi masa depan sepak bola daerah.

“Sebenarnya kami dari PSSI menyayangkan hal ini terjadi, apalagi ke depan kami akan membawa pertandingan-pertandingan internasional ke daerah ini. Demi masa depan sepak bola Sumut, demi masyarakat Sumut, kami memastikan semua pihak dapat kembali berkonsentrasi pada ajang olahraga yang membawa nama bangsa kita,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Medan melalui Sekretaris Daerah Kota Medan, Wiriya Alrahman, membantah tudingan bahwa pihaknya ingkar terhadap komitmen pembiayaan hotel peserta AFF U-19 2026. Pemkot Medan menegaskan sejak awal tidak pernah ada pembahasan ataupun janji untuk menanggung biaya akomodasi peserta turnamen.

Menurut Wiriya, keterlibatan Pemkot Medan dalam persiapan AFF U-19 2026 hanya terbatas pada penyediaan dan pembenahan fasilitas olahraga yang akan digunakan selama turnamen berlangsung. Fasilitas tersebut meliputi Stadion Teladan, Stadion Kebun Bunga, serta Lapangan Taman Cadika.

“Sejak awal tidak pernah ada komitmen dari Pemko Medan untuk menanggung biaya akomodasi hotel maupun penginapan peserta AFF. Tidak pernah dibahas. Yang diminta kepada kami hanya pembenahan lapangan dan stadion,” tegas Wiriya.

Ia menjelaskan, surat permintaan dukungan pembiayaan akomodasi baru diterima Pemkot Medan pada 24 Mei 2026 atau hanya sekitar sepekan sebelum turnamen berlangsung. Namun permintaan tersebut disebut tidak dapat dipenuhi karena tidak memiliki dasar regulasi yang jelas serta tidak tersedia dalam struktur anggaran pemerintah daerah.

“Tiba-tiba datang surat meminta pembiayaan. Kami melihat tidak ada ketentuan atau aturan yang dapat mengakomodasi permintaan tersebut. Anggaran juga tidak tersedia untuk itu, sehingga tidak bisa dipenuhi,” katanya.

Pemkot Medan juga menolak usulan penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk membiayai hotel peserta, dengan alasan dana tersebut tidak dapat digunakan untuk kebutuhan akomodasi event olahraga internasional.

Kisruh ini sebelumnya mencuat setelah sejumlah peserta turnamen dilaporkan mengalami kendala pembayaran hotel. Salah seorang panitia pelaksana, Muhammad Fauzi, bahkan mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi tersebut dan menilai persoalan itu berpotensi mencoreng citra Indonesia di mata internasional.

Menurut Fauzi, Timor Leste sempat meninggalkan Grand Mercure Medan akibat persoalan pembayaran akomodasi. Selain itu, Tim Filipina disebut terancam mengalami kondisi serupa apabila persoalan tersebut tidak segera diselesaikan.

“Event ini membawa nama Indonesia di level internasional. Jika persoalan ini tidak segera diselesaikan, tentu akan berdampak pada citra penyelenggaraan turnamen,” ujarnya.

Dengan pernyataan terbaru dari PSSI Sumut, polemik terkait akomodasi peserta AFF U-19 2026 kini dipastikan telah ditangani langsung oleh PSSI bersama panitia lokal. Langkah tersebut diambil guna memastikan seluruh peserta mendapatkan fasilitas yang layak serta menjaga reputasi Indonesia sebagai tuan rumah ajang sepak bola internasional.