March 7, 2026

Dari Sumut Kami Berkabar

MENJADI EGALITER TANPA KEHILANGAN ADAT (Tentang Kritik, Martabat, dan Kedewasaan Berpikir)

Oleh : Syufrizal Abu Ikhwan AKA Wak Bahlool – Penggagas Filsafat Bahloolisme


Egaliter bukan berarti seragam, setara bukan berarti sebebas-bebasnya. Dalam kebudayaan yang beradat, kesetaraan selalu berjalan beriring dengan tata cara. Meski duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, tetap saja ada orang yang ditinggikan sebenang; meski hamparan luas yang terpampang, tetap saja sawah berpematang. Setiap orang memang berhak menyampaikan pendapat. Itu hak sipil.

Namun cara menyampaikan pendapat adalah urusan etika. Dan etika tidak lahir dari kebencian, melainkan dari tahunya seseorang menempatkan diri. Sangat disesalkan, sering terjadi kekeliruan berpikir dalam hal ini. – Egalitarianisme yang Disalahpahami Egalitarianisme kerap dipahami secara dangkal: seolah-olah menyamakan posisi manusia setara yang sama artinya dengan menyamaratakan perlakuan dalam penggunaan bahasa, melepaskan selera, tanpa memperhatikan adab.

Padahal, yang disamakan adalah martabat, bukan tatakrama. Dalam adat Nusantara—baik Melayu, Minang, Jawa, maupun lainnya—semua orang boleh bicara, tetapi tidak semua cara bicara dianggap pantas. Ini bukan feodalisme. Ini kebudayaan. Apakah memang sudah saatnya kita beregaliterria dengan menghapus kata sapaan kepada lawan bicara yang selama ini memakai kata ganti Panjenengan, sampeyan, angku, anda, tuan; dan kita ganti dengan kau, elo, you, kowe tanpa memandang status maupun usia?

Bagi masyarakat Nusantara, aturan dalam bertutur kata bukan sekadar etika, melainkan cerminan orang yang beradat. Orang beradat tidak akan melayani pembicaraan yang tak menggunakan tatakrama selayaknya pribadi yang layak dilibatkan dalam perbincangan. Setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya, melontarkan gagasan, kritik, komentar bahkan kecaman, namun tanpa dibarengi dengan kepatutan, dia telah menggugurkan sendiri haknya untuk didengar.

Orang yang mematuhi tatakrama lebih memilih diam atau tak meladeni bukan karena menutup diri dari kritik; melainkan karena timbang rasa dan tahu diri. – Kritik Tanpa Maki: Kaidah Bahloolisme Bahloolisme berdiri pada satu kaidah sederhana: “Kritik tanpa maki adalah keberanian tertinggi.” Dalam pandangan Wak Bahlool, makian tidak menambah kebenaran.

Ia hanya mempercepat konflik. Mereka yang memaki, menghina dan merendahkan itu sama sekali tak ingin mendapat penjelasan. Yang mereka inginkan adalah reaksi kemarahan dari pihak yang mereka kritik. Orang yang yakin dengan kebenarannya tidak butuh melukai untuk membuktikan apa pun. Kebenaran berdiri di atas argumennya sendiri, bukan dengan kerasnya suara atau kasarnya kata. Pisau yang baik itu tajam, tapi gagangnya halus. – Membongkar Logika Kekanak-kanakan: Ada pernyataan bahwa “Satire Itu Menyakitkan Karena Benar”.

Ini dalih yang tampak cerdas, tapi sebenarnya rapuh secara logika. Pertama, rasa sakit bukan indikator kebenaran. Kalau demikian, tuduhan palsu, fitnah, dan hoaks seharusnya tidak menyakitkan korban. Padahal, tuduhan tidak benar justru sering kali jauh lebih melukai korban ketimbang terhadap pelaku.

Bagaimanapun si Pelaku memang sudah mendasari perbuatan itu di atas kekecewaan dan kemarahan, sakit hati yang minta pelampiasan. Kedua, orang yang benar tidak perlu menyakiti untuk menunjukkan bahwa ia benar. Menganggap menyakiti sebagai bukti kebenaran adalah logika kekanak-kanakan— logika yang menyamakan keras dengan hebat, pedas dengan pintar, kasar tanda berani. Ketiga, kebenaran yang disampaikan dengan adab tidak kehilangan daya gugahnya.

Justru sebaliknya, ia lebih sulit dibantah. Jika sebuah kritik harus melukai agar dianggap sah, sebenarnya yang sedang dicari bukan kebenaran, melainkan sensasi. – Adat Sebagai Penjaga Mutu, Bukan Penutup Mulut Ewuh pakewuh bukan larangan berpikir.Ia adalah rem bagi kesembronoan.

Adat tidak pernah melarang untuk menunjuk kesalahan, membongkar kepalsuan, mengoreksi kekuasaan Yang ditolak adat hanyalah cara rendahan untuk meraih satu tujuan. Dalam pandangan orang beradat, menempuh cara hina hanya menunjukkan buruknya tujuan. – Penutup Egaliter bukanlah tentang menurunkan semua orang ke level terendah, melainkan mengangkat semua orang ke martabat tertinggi.

Kita boleh berbeda pendapat, keras dalam mempertahankan argumen, tapi tidak perlu kasar dalam berbahasa. Orang beradat tidak akan pernah ingin menang dalam perdebatan yang hanya akan membuatnya kehilangan diri sendiri. Bagi sebagian masyarakat di Nusantara, sebutan tidak beradat sangat menyakitkan.

Tidak berilmu bisa disekolahkan, tidak beragama bisa bermajlis, tetapi “tidak beradat” dianggap sebagai tanda bahwa orangtua dan keluarganya tidak menunjuk ajar, atau memang orangnya sendiri yang kurang ajar.

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *