Nyaris 30 Tahun Tanpa Penggantian, Dua Jembatan Tua di Madina Jadi Ancaman bagi Ribuan Warga
MANDAILING NATAL – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, dua jembatan tua yang menjadi urat nadi transportasi ribuan warga di Kecamatan Sinunukan dan Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, hingga kini belum juga tersentuh pembangunan. Kondisi keduanya kian memprihatinkan dan dinilai mengancam keselamatan pengguna jalan.
Salah satu jembatan yang menjadi sorotan adalah Jembatan Sungai Batang Bangko di Desa Airapa, Kecamatan Sinunukan. Jembatan sepanjang sekitar 50 meter itu dibangun pada 1997 dan hingga kini belum pernah diganti dengan konstruksi baru.
Selama hampir tiga dekade, perbaikan yang dilakukan hanya bersifat sementara atau tambal sulam. Ironisnya, masyarakat menyebut perawatan rutin justru lebih banyak dilakukan oleh PT Palmaris Raya, mulai dari penggantian besi H yang patah hingga bantalan kayu yang lapuk.
Padahal, jembatan tersebut merupakan fasilitas publik yang setiap hari digunakan masyarakat sekaligus dilintasi kendaraan perusahaan-perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang beroperasi di kawasan Sinunukan dan Batahan.
Bapak Lubis, warga yang mengaku menjadi saksi pembangunan jembatan pada 1997, mengatakan kualitas material jembatan saat ini jauh menurun dibanding saat pertama kali dibangun.
“Dulu masih ada kayu damar yang kuat. Sekarang tinggal kayu rasak yang masih muda. Diganti hari ini, seminggu kemudian sudah rusak lagi,” ujarnya.
Tak Lagi Layak Direhabilitasi
Berdasarkan hasil peninjauan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, serta sejumlah anggota DPRD, masyarakat menyebut kesimpulan yang muncul relatif sama, yakni jembatan tersebut sudah tidak layak lagi diperbaiki.

Struktur utama, besi silang (X), hingga besi H disebut telah mengalami korosi akibat faktor usia. Karena itu, solusi yang dinilai paling tepat adalah membangun jembatan baru, bukan lagi melakukan perbaikan berkala.
Namun hingga kini, rencana tersebut belum juga terealisasi.
Yang lebih mengkhawatirkan, setiap hari jembatan masih dilintasi truk pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dengan muatan berat. Selain menjadi jalur distribusi hasil perkebunan, jembatan tersebut juga menjadi akses utama pengangkutan sembako, material bangunan, layanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat di dua kecamatan.
Jembatan Panjang Bintungan Bernasib Sama
Kondisi serupa juga terjadi pada Jembatan Muara Batang Bangko atau yang dikenal masyarakat sebagai Jembatan Panjang Bintungan di Desa Bintungan Kampung, Kecamatan Batahan.
Jembatan sepanjang sekitar 100 meter itu juga menjadi akses strategis yang menghubungkan kawasan Pantai Barat Mandailing Natal. Namun hingga kini belum ada kepastian pembangunan meski kondisinya terus menua.
Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul satu pertanyaan yang terus disuarakan masyarakat.
“Berapa kali lagi jembatan harus diukur sebelum benar-benar dibangun?”
Menurut warga, petugas dari berbagai instansi sudah berulang kali melakukan survei, pengukuran, hingga pendataan. Proposal pembangunan juga disebut telah beberapa kali diajukan. Namun, seluruh proses itu dinilai belum membuahkan hasil nyata.
Kekecewaan masyarakat pun semakin terasa. Keluhan mengenai kondisi dua jembatan tersebut kini menjadi pembicaraan sehari-hari di warung-warung kopi, mulai dari Warkop Bang Jok hingga Warkop Meja Panas Sinunukan.
Dorong Pemanfaatan Dana CSR
Melihat belum adanya kepastian dari pemerintah, sejumlah tokoh masyarakat menawarkan solusi alternatif.
Tokoh masyarakat Desa Bintungan Bejangkar Baru, Abdi Wibowo dan Hotner Pasaribu, mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal segera mengundang seluruh perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang memanfaatkan akses tersebut untuk bersama-sama membahas pembangunan jembatan melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR).
Perusahaan yang disebut memanfaatkan jalur tersebut di antaranya PT PN IV Kebun Timur/Balap, PT Sago Nauli, dan PT Palmaris Raya.
“Jangan hanya satu perusahaan yang selama ini membantu perawatan. Kendaraan perusahaan lain juga menikmati akses yang sama. Sudah sepatutnya tanggung jawab sosial dilakukan secara bersama-sama,” ujar mereka.
Menurut masyarakat, kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi langkah realistis mengingat kedua jembatan tersebut bukan hanya menopang aktivitas warga, tetapi juga menjadi jalur utama distribusi hasil perkebunan yang menopang roda perekonomian kawasan Pantai Barat Mandailing Natal.

